Selasa, 25 Agustus 2015

PERINGATAN HUT RI KE 70 DI PUNCAK BAWAKARAENG

Salam Lestari Bro & Sis..



Mendaki gunung merupakan suatu aktivitas luar ruang yang sangat menantang dan mengasyikan. Apalagi bagi para anggota KPA (Kelompok Pecinta Alam), aktivitas mendaki gunung bagi mereka sudah menjadi rutinitas yang harus mereka kerjakan sewaktu-waktu. Selain untuk memanfaatkan waktu luang, kegiatan mendaki gunung bisa dijadikan ajang pengikat tali persaudaraan antara junior dan senior melalui kegiatan-kegiatan diksar yang mereka lakukan.



Dewasa ini, mendaki gunung sudah mulai digemari kalangan umum dan anak-anak muda di seluruh Indonesia. Saya heran, apa anak-anak muda jaman sekarang sudah bosan menghabiskan weekend di kota?Jalan-jalan ke mall, nongkrong di cafe, nonton film yang baru rilis di bioskop, shopping sana-sani, dll apa semua itu sudah menjenuhkan bagi mereka?



Jawabannya mereka pasti sudah jenuh..itu betul. Dan mereka butuh suasana yang baru dan fresh yang bisa membuat mereka terlihat lebih keren ketika foto yang mereka jepret di puncak gunung mendapatkan banyak likers dan commenters di media sosial.



Sebagai bukti, pada upacara peringatan HUT RI Ke 70 di puncak gunung Bawakaraeng Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Agustus 2015, angka jumlah peserta yang hadir sungguh sangat mengejutkan. Situs berita online Tribunnews.com mengutip ada sebanyak 6.300 pendaki dari seluruh Indonesia yang hadir pada waktu itu (sumber : http://makassar.tribunnews.com/2015/08/17/6300-pendaki-rayakan-kemerdekaan-ri-di-puncak-bawakaraeng)



Jika belum cukup puas melihat buktinya saya tambah penampakannya deh yang saya jepret sendiri pakai kamera poket nih bro & sis







Wow..luar biasa kan bro & sis??ga ada baris berbaris yaa seperti di sekolah. ga ada guru BP yang pasang muka sangar sambil mondar mandir di barisan belakang tempatnya para berandalan sekolah.



Bayangin aja di puncak gunung setinggi 2830 Mdpl bejubel manusia segini banyaknya. Katanya kegiatan ini merupakan yang terbesar loh se-Indonesia. Masa sih? ya ngga tau juga sih soalnya belum ada sumber yang pasti. Tapi boleh lah di adu dengan peringatan HUT RI ke 70 di gunung Semeru atau Rinjani atau di gunung-gunung lainnya se-Indonesia.



Kegiatan peringatan HUT RI atau sebut saja 17-an di gunung merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun oleh para teman-teman pecinta alam, baik dengan ataupun tanpa dukungan dari pemerintah dan swasta. Tapi biasanya pemerintah mendukung dalam bentuk dana sehubungan dengan mewakili KPA dari daerah masing-masing yang nantinya akan mengangkat bendera dari masing-masing KPA pada saat upacara berlangsung.

Lagu Indonesia Raya pun dinyanyikan oleh ribuan orang riuh menggema diatas awan seiring dikibarkannya Sang Saka Merah Putih di angkasa. Merupakan sebuah momentum yang mampu membangkitkan semangat dan jiwa nasionalisme dalam diri.



VIDEO YANG SAYA UNGGAH DI YOUTUBE PADA SAAT UPACARA BERLANGSUNG








Nah bro & sis, tertarik untuk ikut merayakan 17-an di gunung?

Sebelumnya bro & sis harus banyak melakukan persiapan demi persiapan. Khususnya persiapan fisik dan peralatan standar pendakian harus dipenuhi agar meminimalisir resiko selama pendakian berlangsung.



Salam Lestari dan Merdeka!



Nb : Ingat jika mendaki gunung budayakan kebersihan tetap dijaga

        Bawalah kembali turun sampahmu

        Jangan mengambil apapun selain gambar dan jangan meninggalkan apapun selain jejak

Selasa, 24 April 2012

Terikat Lara

Hobi Sebagai Makanan Jiwa

Sebagai seorang manusia, tanpa harus lagi diperdebatkan tentu kita membutuhkan aktivitas lain diluar aktivitas pokok seperti : sekolah, belajar, dan bekerja. Yaitu aktivitas yang merupakan suatu makanan jiwa yang mampu mengisi ulang jiwa yang sudah terkuras akibat gaya tarik – menarik antara otot dan urat saraf. Sebuah pelarian jiwa yang akan membawa kita dilahirkan kembali ke dunia menjadi manusia yang baru yang siap memulai kembali akivitas sehari-hari. Inilah yang disebut Hobi.
Sebagai seorang yang terlahir sebagai laki-laki, aku memiliki cukup banyak hobi yang menjadi makanan bagi jiwa ku dan itu semua rasanya enak sekali sehingga rasanya ingin nambah dan nambah lagi. Aku sangat menyukai segala jenis olahraga ekstrim. Apapun yang termasuk olahraga ekstrim aku pasti suka. Namun dari sekian banyak olahraga pemacu adrenalin itu belum semuanya sempat ku coba. Hanya Skateboard dan Surfing­ yang baru sempat ku rasakan sensasi gila dari hobi ini. Selain itu aku juga menyukai musik secara pasif maupun aktif. Artinya selain mendengarkan aku juga aktif memainkan musik itu sendiri. Walaupun pengetahuan minim soal musik itu tidak menjadi penghalang bagi ku untuk tidak bermain musik .


Pengorbanan

Mencoba hal-hal baru yang ada dalam hidup selama itu bersifat positif, aku kira itu tidak ada salahnya. Karena hobi yang bersifat positif akan menghasilkan sesuatu yang positif juga. Biasanya timbulnya sebuah hobi berawal dari iseng menjadi demen dan kalau sudah demen apapun bisa dikorbankan. Termasuk rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan akan hobi tersebut. Contoh hobi yang pernah aku coba yang menguras isi dompet ku adalah fotografi.
Hobi ini aku jalani saat kuliah di Bandung. Waktu itu saya membeli kamera lomo. Kenapa lomo? Karena hanya jenis kamera ini yang cocok dengan kocek saya. Lagipula kamera itu aku beli bekas dari seorang teman. Lomo itu berjenis fisheye yang ajaibnya menghasilkan gambar melengkung karena berlensa cembung. Hinggap di hobi ini aku perlu berkorban dengan menyisihkan uang untuk membeli rol film untuk dipakai terus dicuci lalu dicetak. Untuk mengirit pengeluaran terkadang aku harus hunting rol film yang sudah kadaluarsa, karena selain murah, rol film kadaluarsa ini juga menghasilkan foto dengan hasil distorsi yang unik meskipun persentase hasil cetaknya sangatlah kecil. Karena biasanya lebih banyak film yang terbakar.

Dan disinilah letak perbedaan esensi dari menggunakan kamera digital dan kamera manual yang masih menggunakan negative. Kamera manual dikenal lebih misterius karena untuk melihat hasil jepretan harus melalui tahap cuci dan cetak terlebih dulu. Menurut aku kamera jenis ini dilarang untuk dipakai oleh pemula! Karena yakin dan percaya dengan skill pas-pasan hasil jepretan tidak akan sebanding dengan jumlah ongkos yang keluar untuk modal beli rol film hingga proses cuci cetak.

Setelah lomo, hobi fotografi ini berlanjut sampai aku lulus kuliah dan berpenghasilan sendiri. Sehingga aku sudah mampu membeli kamera DSLR Canon 1000D yang lagi-lagi, juga ku beli bekas dari seorang teman. Sampai ditengah jalan, aku terhenti dan berpikir bahwa untuk melanjutkan hobi ini tidak sedikit yang harus aku korbankan. Melihat harga-harga perangkat pendukungnya yang hanya mampu ku penuhi jika ada pohon uang yang tumbuh di belakang rumah. Mustahil terjadi. Tapi jika hobi ini terus berlanjut, maka gaji yang aku terima tiap bulan akan habis sebelum waktunya. Alhasil aku akan “DADAS” dan aku akan membuat permohonan subsidi dari orang tua sambil menunggu penerimaan gaji bulan depan. Sebelum semuanya menjadi kenyataan lebih baik ku jual saja kamera itu kepada teman yang ingin mencoba hobi mahal ini.

Kita mengenal istilah beranjak dari hobi akan berubah menjadi profesi yang menghasilkan. Ungkapan ini terealisasi di saat saya menemukan diri saya berada dalam lingkungan orang-orang kreatif yang secara stimulan merangsang kreatifitas bermusik yang ada dalam diri saya.

Sejalan dengan hobi fotografi, selagi aku masih pergi di rantau di sebuah kota sejuk di Jawa Barat yang bernama Bandung itu, aku dan enam orang teman-teman mahasiswa dari kampus berlainan membentuk sebuah band indie yang bernama Hollywood Nobody. Bisa dibilang band cupu kami ini diberkahi jalan yang mulus. Berkat ikutan dalam sebuah festival band indie di kota tersebut, dapur rekaman sampe syuting video clip menyambut dan tawaran manggungpun mulai berdatangan, bermunculan bak jamur di musim hujan.

Sayangnya, perjalananan ku dengan band ini tidak dapat berlanjut sampai sekarang. Dikarenakan tujuan ku merantau adalah kuliah bukan untuk bermusik. Musik hanyalah sebagai selingan untuk makanan jiwa ku. Maka setelah memperoleh ijasah sarjana aku diharuskan pulang kampung ke Makassar untuk melanjutkan hidup dan berkarir di dunia kerja.


Pelabuhan Ratu "Wilujeng Surfing"

Jika berbicara soal olahraga ekstrim. Selain skateboard, ada salah satu olahraga ekstrim yang ternyata sangat mengasikkan dan tidak kalah ekstrimnya dengan skateboard. Waktu itu teman bandku menceritakan pengalamannya bermain surfing di Pelabuhan Ratu yang langsung membangunkan jiwa ku yang lapar akan sesuatu hal yang baru. Aku sempat menanyakan kepadanya papan surfing yang berharga murah disana untuk dipakai belajar. Dan jawabannya sangat memuaskan hati dan jiwa laparku. Hanya dengan membawa modal Rp. 300.000 papan surfing bekas sudah ditangan.
Rasanya masih kurang puas jika hanya mendengar cerita tanpa merasakan langsung sensasi bermain surfing itu seperti apa. Maka saya bersama beberapa teman pergi ke Pelabuhan Ratu yang merupakan wilayah pantai selatan yang juga memiliki sebutan lain adalah “laut kidul” bagi masyarakat Jawa Barat.

Kami disana diizinkan tinggal di rumah seorang warga lokal yang juga hobi bermain surfing. Namanya Mang Asep. Mang Asep sudah berkeluarga dan memiliki 3 orang anak. Pekerjaan sehari-harinya adalah seorang penjaga pantai, selain itu dia juga bekerja membuat kapal untuk bosnya yang bule Perancis. Begitu selesai bekerja, jika ombak sedang bagus, iapun langsung pergi mengambil papan surfing lalu turun ke pantai bermain dengan ombak.
Setiap malam rumah ini selalu ramai oleh para pemuda-pemuda lokal yang sangat ramah dan baik kepada kami. Kami pun sebagai orang baru sudah tidak merasa segan lagi dan keakraban pun terjalin dengan mereka hanya dalam semalam dipinggir pantai. Kamipun banyak mengobrol tentang papan surfing, ombak, bule, cewek, musik, dan seterusnya sampai kami semua mengantuk lalu tertidur sambil ditemani suara debur ombak yang menjelma bagaikan musik nan indah.

Surfing adalah olahraga yang tidak mudah, tapi Mang Asep bilang kepada ku yang ada basic bermain skateboardnya akan lebih mudah untuk mempelajarinya. Tentu ini sangat membangkitkan semangat ku untuk belajar. Kami semua belajar surfing di pantai yang tak jauh dari rumahnya Mang Asep. Pantai itu bernama Karang Sari. Uniknya dijalan masuk menuju pantai itu terpampang gapura bambu yang bertuliskan “Wilujeng Surfing” yang artinya Selamat bermain Surfing. Mang Aseplah bersama pemuda lokal yang membuat gapura itu. Menurut dia, gapura itu dibuat untuk menyambut kedatangan orang – orang luar dan turis yang ingin bermain surfing di pantai ini, agar mereka senang dan selalu datang kembali ke pantai ini.

Dalam kunjungan saya yang baru pertama kali di Pelabuhan Ratu yang hanya selama dua hari ini belum memberikan rasa puas dan akupun masih belum mampu berdiri diatas papan. Sehingga akupun selalu datang kembali dikarenakan oleh rasa penasaran yang belum terobati. Terkadang aku datang dari Bandung bersama teman naik motor boncengan berdua. Dan terkadang pula aku datang sendiri naik bus. Demi mencapai keberhasilan bisa bermain surfing.

Diwaktu aku datang berkunjung sendiri kesana, dalam hati aku bersumpah tidak akan pulang sampai aku bisa berdiri diatas ombak. Ternyata, benar saja, dengan niat itu aku tinggal di sana selama dua minggu sampai lupa pada skripsi yang sementara sedang aku kerjakan. Selama dua minggu itu Mang Aseplah bersama teman lokal saya yang bernama Bobing, yang mengajari ku cara paddle yang baik, duck dive, take off, sampai cara paddle di arus yang kuat. Dalam waktu dua hari aku sudah mampu untuk berdiri diatas ombak.

Jika aku membayangkan sensasi yang kurasakan saat take off pertama ku itu merupakan makanan jiwa yang luar biasa hebatnya. Disaat itulah kurasakan sensasi perbedaan antara surfing dan skateboard yang ternyata surfing jauh lebih hebat sensasinya dibandingkan dengan skateboard. Akan tetapi level bahaya yang ada dalam olahraga surfing juga sangat tinggi. Aku telah merasakan sendiri bagaimana rasanya di gulung ombak besar karena gagal take off lalu terhempas ke karang yang menyebabkan luka di bagian kaki, lutut, dan paha. Rasanya seperti berkelahi dengan malaikat maut. Itulah harga yang harus dibayar untuk bisa berdiri diatas ombak.

Hari-haripun berlalu disertai dengan perasaan jiwa yang puas dengan hasil yang telah dicapai. Saya pun mengucapkan rasa terima kasih kepada Mang Asep dan keluarga lalu berpamitan untuk pulang dan berjanji suatu saat nanti pasti akan kembali.


Skateboard

Selagi aku masih di Bandung, aku tidak lepas dari hobi ku bermain skateboard yang sudah aku tekuni sejak kelas 2 SMA. Sampai sekarangpun aku masih sering main skateboard bareng teman-teman dan kalo tidak salah hitung sudah selama 13 tahun aku menekuni hobi ini dan tidak pernah merasa bosan dengan olahraga ekstrim yang satu ini.
Kembali ke masa dimana aku masih berumur 10 tahun, aku sekeluarga sedang melakukan kunjungan rutin ke rumah nenek di Jakarta. Nenek tinggal serumah bersama om dan tante ku yang pada saat itu masih sibuk dengan kuliahnya masing-masing. Maka tak jarang aku dan kakakku sering bermain hanya berdua saja di dalam rumah pada siang hari. Jika pada sore hari baru kami diizinkan bermain di luar rumah.

Ketika kami sedang bermain di dalam rumah, aku dan kakakku menemukan sebuah gudang yang gelap dan hanya berisi barang rongsokan yang tentu sudah tidak dipakai lagi. Namun tanpa disengaja kami menemukan sepasang papan beroda yang masih bagus hanya terlihat kotor dan berdebu. Papan beroda itu berwarna oranye dan biru. Segera kami lari naik ke lantai dua dengan maksud ingin memperlihatkan penemuan bersejarah kami kepada nenek yang biasa kami panggil “Mami”. Mamipun terlihat sangat gembira dengan apa yang kami temukan dan dia menjelaskan skateboard ini dulu kepunyaan om ku semasa mereka masih kecil. Dia mengira takkan lagi melihat skateboard itu.

Pertemuan pertama kali ku dengan skateboard pada waktu itu sepertinya merupakan garis hidupku yang telah ditentukan oleh yang maha kuasa. Seiring berlalunya waktu dan skateboard ku yang pertama itu telah hilang entah kemana. Pada akhirnya aku dipertemukan kembali saat aku duduk di bangku SMA kelas 2.

Selepas meninggalnya ayahku, kami sekeluarga pindah ke Makassar. Di kota inilah pertemuan kembali ku dengan skateboard yang bermula dari keberanian ku dan temanku untuk memasuki pergaulan komunitas skateboard yang berpusat di jalan Arif Rate. Dengan modal keberanian itu pula aku mencoba meminjam papan salah satu dari mereka mencoba untuk menaikinya dan walhasil aku masih bisa meluncur karena aku memiliki dasar dari papan skateboard keluaran gudang rumah nenekku semasa aku kecil dulu. Bedanya papan skateboard ku yang dulu itu terbuat dari karet, yang sekarang ini terbuat dari kayu maple.

Menyadari kemampuan dasar ku bermain skateboard dan merasakan keasikkannya maka akupun membeli papan skateboard. Lalu secara pelan-pelan aku belajar trik-trik dasar seperti : Ollie, Frontside/Backside, Pop Shuvit, Heel flip, Kick flip, Board slide, 50-50 grind, dan 5-0 grind. Mempelajari sebuah trik skateboard dibutuhkan kesabaran karena selain sangat sulit dan harus dicoba terus berulang-ulang kali, juga cedera ankle pun tidak dapat dihindarkan. Maka tidak heran jika satu trik mampu dikuasai dalam waktu berbulan-bulan.

Sensasi yang kurasakan dalam bermain skateboard adalah seketika berhasil mendaratkan trik yang telah dipelajari berulang-ulang dan lalu mendaratkannya di suatu rintangan atau alat yang ada. Itu susahnya bukan main karena dibutuhkan keberanian dan teknik yang tinggi dan keyakinan terhadap sebuah perkiraan yang pasti.
Karena jika perkiraan meleset atau ragu-ragu akibatnya bisa fatal. Akibatnya akan terjatuh dengan luka serius dan mengalami patah tulang.

Namun apa mau dikata jika inilah makanan jiwaku dan sebenarnya masih banyak hobi-hobi lain yang bisa aku coba dan aku tekuni. Akan tetapi jiwa ini menolaknya karena apa yang telah dirasakannya sudah cukup memberinya kepuasan akan seleranya. Dan jika seumpama takdir berkata kepadaku “waktunya sudah cukup, berhentilah!” maka aku siap untuk mendedikasikan sisa hidupku demi kemajuan dunia skateboard di Tanah Air.


Because life is too short to felt joy and happiness in this world