Sebagai seorang
manusia, tanpa harus lagi diperdebatkan tentu kita membutuhkan aktivitas lain
diluar aktivitas pokok seperti : sekolah, belajar, dan bekerja. Yaitu aktivitas
yang merupakan suatu makanan jiwa yang mampu mengisi ulang jiwa yang sudah
terkuras akibat gaya tarik – menarik antara otot dan urat saraf. Sebuah
pelarian jiwa yang akan membawa kita dilahirkan kembali ke dunia
menjadi manusia yang baru yang siap memulai kembali akivitas sehari-hari.
Inilah yang disebut Hobi.
Sebagai seorang
yang terlahir sebagai laki-laki, aku memiliki cukup banyak hobi yang menjadi makanan bagi jiwa ku dan itu semua rasanya
enak sekali sehingga rasanya ingin nambah dan nambah lagi. Aku sangat menyukai segala
jenis olahraga ekstrim. Apapun yang termasuk olahraga ekstrim aku pasti suka. Namun dari
sekian banyak olahraga pemacu adrenalin itu belum semuanya sempat ku coba. Hanya Skateboard
dan Surfing yang baru sempat ku rasakan sensasi gila dari hobi ini. Selain itu aku juga menyukai musik
secara pasif maupun aktif. Artinya selain mendengarkan aku juga aktif memainkan musik
itu sendiri. Walaupun pengetahuan minim soal musik itu tidak menjadi penghalang
bagi ku untuk
tidak bermain musik .
Pengorbanan
Mencoba hal-hal
baru yang ada dalam hidup selama itu bersifat positif, aku kira itu tidak ada
salahnya. Karena hobi yang bersifat positif akan menghasilkan sesuatu yang
positif juga. Biasanya timbulnya sebuah hobi berawal dari iseng menjadi demen
dan kalau sudah demen apapun bisa dikorbankan. Termasuk rela merogoh kocek yang
tidak sedikit
untuk memenuhi kebutuhan akan hobi tersebut. Contoh hobi yang pernah aku coba yang menguras isi
dompet ku
adalah fotografi.
Hobi ini aku jalani saat kuliah di
Bandung. Waktu itu saya membeli kamera lomo. Kenapa lomo? Karena hanya jenis
kamera ini yang cocok dengan kocek saya. Lagipula kamera itu aku beli bekas dari seorang teman. Lomo itu berjenis fisheye yang
ajaibnya menghasilkan gambar melengkung karena berlensa cembung. Hinggap di
hobi ini aku
perlu berkorban dengan menyisihkan uang untuk membeli rol film untuk dipakai
terus dicuci lalu dicetak. Untuk mengirit pengeluaran terkadang aku harus hunting rol film
yang sudah kadaluarsa, karena selain murah, rol film kadaluarsa ini juga
menghasilkan foto dengan hasil distorsi yang unik meskipun persentase hasil
cetaknya sangatlah kecil. Karena biasanya lebih banyak film yang terbakar.
Dan disinilah
letak perbedaan esensi dari menggunakan kamera digital dan kamera manual yang
masih menggunakan negative. Kamera manual dikenal lebih misterius karena untuk
melihat hasil jepretan harus melalui tahap cuci dan cetak terlebih dulu.
Menurut aku
kamera jenis ini dilarang untuk dipakai oleh pemula! Karena yakin dan percaya
dengan skill pas-pasan hasil jepretan tidak akan sebanding dengan jumlah ongkos yang keluar
untuk modal beli rol film hingga proses cuci cetak.
Setelah lomo,
hobi fotografi ini berlanjut sampai aku lulus kuliah dan berpenghasilan sendiri. Sehingga aku sudah mampu membeli
kamera DSLR Canon 1000D yang lagi-lagi, juga ku beli bekas dari seorang teman. Sampai ditengah
jalan, aku
terhenti dan berpikir bahwa untuk melanjutkan hobi ini tidak sedikit yang harus
aku
korbankan. Melihat harga-harga perangkat pendukungnya yang hanya mampu ku penuhi jika ada pohon
uang yang tumbuh di belakang rumah. Mustahil terjadi. Tapi jika hobi ini terus
berlanjut, maka gaji yang aku terima tiap bulan akan habis sebelum waktunya. Alhasil aku akan “DADAS” dan aku akan membuat permohonan
subsidi dari orang tua sambil menunggu penerimaan gaji bulan depan. Sebelum
semuanya menjadi kenyataan lebih baik ku jual saja kamera itu kepada teman yang ingin mencoba hobi mahal ini.
Kita mengenal
istilah beranjak dari hobi akan berubah menjadi profesi yang menghasilkan.
Ungkapan ini terealisasi di saat saya menemukan diri saya berada dalam
lingkungan orang-orang kreatif yang secara stimulan merangsang kreatifitas bermusik
yang ada dalam diri saya.
Sejalan dengan
hobi fotografi, selagi aku masih pergi di rantau di sebuah kota sejuk di Jawa Barat yang
bernama Bandung itu, aku dan enam orang teman-teman mahasiswa dari kampus berlainan membentuk
sebuah band indie yang bernama Hollywood Nobody. Bisa dibilang band cupu kami
ini diberkahi jalan yang mulus. Berkat ikutan dalam sebuah festival band indie
di kota tersebut, dapur rekaman sampe syuting video clip menyambut dan tawaran
manggungpun mulai berdatangan, bermunculan bak jamur di musim hujan.
Sayangnya,
perjalananan ku dengan band ini tidak dapat berlanjut sampai sekarang. Dikarenakan tujuan
ku merantau
adalah kuliah bukan untuk bermusik. Musik hanyalah sebagai selingan untuk
makanan jiwa ku. Maka setelah memperoleh ijasah sarjana aku diharuskan pulang
kampung ke Makassar untuk melanjutkan hidup dan berkarir di dunia kerja.
Pelabuhan Ratu "Wilujeng Surfing"
Jika berbicara soal olahraga ekstrim. Selain skateboard, ada salah satu
olahraga ekstrim yang ternyata sangat mengasikkan dan tidak kalah ekstrimnya
dengan skateboard. Waktu itu teman bandku menceritakan pengalamannya bermain
surfing di Pelabuhan Ratu yang langsung membangunkan jiwa ku yang lapar akan
sesuatu hal yang baru. Aku sempat menanyakan kepadanya papan surfing yang
berharga murah disana untuk dipakai belajar. Dan jawabannya sangat memuaskan
hati dan jiwa laparku. Hanya dengan membawa modal Rp. 300.000 papan surfing
bekas sudah ditangan.
Rasanya masih kurang puas jika hanya mendengar cerita tanpa merasakan
langsung sensasi bermain surfing itu seperti apa. Maka saya bersama beberapa
teman pergi ke Pelabuhan Ratu yang merupakan wilayah pantai selatan yang juga
memiliki sebutan lain adalah “laut kidul” bagi masyarakat Jawa Barat.
Kami disana diizinkan tinggal di rumah seorang warga lokal yang juga hobi
bermain surfing. Namanya Mang Asep. Mang Asep sudah berkeluarga dan memiliki 3
orang anak. Pekerjaan sehari-harinya adalah seorang penjaga pantai, selain itu
dia juga bekerja membuat kapal untuk bosnya yang bule Perancis. Begitu selesai
bekerja, jika ombak sedang bagus, iapun langsung pergi mengambil papan surfing
lalu turun ke pantai bermain dengan ombak.
Setiap malam rumah ini selalu ramai oleh para pemuda-pemuda lokal yang sangat
ramah dan baik kepada kami. Kami pun sebagai orang baru sudah tidak merasa
segan lagi dan keakraban pun terjalin dengan mereka hanya dalam semalam
dipinggir pantai. Kamipun banyak mengobrol tentang papan surfing, ombak, bule,
cewek, musik, dan seterusnya sampai kami semua mengantuk lalu tertidur sambil
ditemani suara debur ombak yang menjelma bagaikan musik nan indah.
Surfing adalah olahraga yang tidak mudah, tapi Mang Asep bilang kepada ku
yang ada basic bermain skateboardnya akan lebih mudah untuk mempelajarinya.
Tentu ini sangat membangkitkan semangat ku untuk belajar. Kami semua belajar
surfing di pantai yang tak jauh dari rumahnya Mang Asep. Pantai itu bernama
Karang Sari. Uniknya dijalan masuk menuju pantai itu terpampang gapura bambu
yang bertuliskan “Wilujeng Surfing” yang artinya Selamat bermain Surfing. Mang
Aseplah bersama pemuda lokal yang membuat gapura itu. Menurut dia, gapura itu
dibuat untuk menyambut kedatangan orang – orang luar dan turis yang ingin
bermain surfing di pantai ini, agar mereka senang dan selalu datang kembali ke
pantai ini.
Dalam kunjungan saya yang baru pertama kali di Pelabuhan Ratu yang hanya
selama dua hari ini belum memberikan rasa puas dan akupun masih belum mampu
berdiri diatas papan. Sehingga akupun selalu datang kembali dikarenakan oleh
rasa penasaran yang belum terobati. Terkadang aku datang dari Bandung bersama
teman naik motor boncengan berdua. Dan terkadang pula aku datang sendiri naik
bus. Demi mencapai keberhasilan bisa bermain surfing.
Diwaktu aku datang berkunjung sendiri kesana, dalam hati aku bersumpah
tidak akan pulang sampai aku bisa berdiri diatas ombak. Ternyata, benar saja, dengan
niat itu aku tinggal di sana selama dua minggu sampai lupa pada skripsi yang
sementara sedang aku kerjakan. Selama dua minggu itu Mang Aseplah bersama teman
lokal saya yang bernama Bobing, yang mengajari ku cara paddle yang baik, duck
dive, take off, sampai cara paddle di arus yang kuat. Dalam waktu dua hari aku
sudah mampu untuk berdiri diatas ombak.
Jika aku membayangkan sensasi yang kurasakan saat take off pertama ku itu
merupakan makanan jiwa yang luar biasa hebatnya. Disaat itulah kurasakan
sensasi perbedaan antara surfing dan skateboard yang ternyata surfing jauh
lebih hebat sensasinya dibandingkan dengan skateboard. Akan tetapi level bahaya
yang ada dalam olahraga surfing juga sangat tinggi. Aku telah merasakan sendiri
bagaimana rasanya di gulung ombak besar karena gagal take off lalu terhempas ke
karang yang menyebabkan luka di bagian kaki, lutut, dan paha. Rasanya seperti
berkelahi dengan malaikat maut. Itulah harga yang harus dibayar untuk bisa
berdiri diatas ombak.
Hari-haripun berlalu disertai dengan perasaan jiwa yang puas dengan hasil
yang telah dicapai. Saya pun mengucapkan rasa terima kasih kepada Mang Asep dan
keluarga lalu berpamitan untuk pulang dan berjanji suatu saat nanti pasti akan
kembali.
Skateboard
Selagi aku masih di Bandung, aku tidak lepas dari hobi ku bermain
skateboard yang sudah aku tekuni sejak kelas 2 SMA. Sampai sekarangpun aku
masih sering main skateboard bareng teman-teman dan kalo tidak salah hitung
sudah selama 13 tahun aku menekuni hobi ini dan tidak pernah merasa bosan
dengan olahraga ekstrim yang satu ini.
Kembali ke masa dimana aku masih berumur 10 tahun, aku sekeluarga sedang
melakukan kunjungan rutin ke rumah nenek di Jakarta. Nenek tinggal serumah
bersama om dan tante ku yang pada saat itu masih sibuk dengan kuliahnya
masing-masing. Maka tak jarang aku dan kakakku sering bermain hanya berdua saja
di dalam rumah pada siang hari. Jika pada sore hari baru kami diizinkan bermain
di luar rumah.
Ketika kami sedang bermain di dalam rumah, aku dan kakakku menemukan sebuah
gudang yang gelap dan hanya berisi barang rongsokan yang tentu sudah tidak
dipakai lagi. Namun tanpa disengaja kami menemukan sepasang papan beroda yang
masih bagus hanya terlihat kotor dan berdebu. Papan beroda itu berwarna oranye
dan biru. Segera kami lari naik ke lantai dua dengan maksud ingin
memperlihatkan penemuan bersejarah kami kepada nenek yang biasa kami panggil
“Mami”. Mamipun terlihat sangat gembira dengan apa yang kami temukan dan dia
menjelaskan skateboard ini dulu kepunyaan om ku semasa mereka masih kecil. Dia
mengira takkan lagi melihat skateboard itu.
Pertemuan pertama kali ku dengan skateboard pada waktu itu sepertinya
merupakan garis hidupku yang telah ditentukan oleh yang maha kuasa. Seiring
berlalunya waktu dan skateboard ku yang pertama itu telah hilang entah kemana.
Pada akhirnya aku dipertemukan kembali saat aku duduk di bangku SMA kelas 2.
Selepas meninggalnya ayahku, kami sekeluarga pindah ke Makassar. Di kota
inilah pertemuan kembali ku dengan skateboard yang bermula dari keberanian ku
dan temanku untuk memasuki pergaulan komunitas skateboard yang berpusat di
jalan Arif Rate. Dengan modal keberanian itu pula aku mencoba meminjam papan
salah satu dari mereka mencoba untuk menaikinya dan walhasil aku masih bisa
meluncur karena aku memiliki dasar dari papan skateboard keluaran gudang rumah
nenekku semasa aku kecil dulu. Bedanya papan skateboard ku yang dulu itu
terbuat dari karet, yang sekarang ini terbuat dari kayu maple.
Menyadari kemampuan dasar ku bermain skateboard dan merasakan keasikkannya
maka akupun membeli papan skateboard. Lalu secara pelan-pelan aku belajar
trik-trik dasar seperti : Ollie, Frontside/Backside, Pop Shuvit, Heel flip,
Kick flip, Board slide, 50-50 grind, dan 5-0 grind. Mempelajari sebuah trik
skateboard dibutuhkan kesabaran karena selain sangat sulit dan harus dicoba
terus berulang-ulang kali, juga cedera ankle pun tidak dapat dihindarkan. Maka
tidak heran jika satu trik mampu dikuasai dalam waktu berbulan-bulan.
Sensasi yang kurasakan dalam bermain skateboard adalah seketika berhasil
mendaratkan trik yang telah dipelajari berulang-ulang dan lalu mendaratkannya
di suatu rintangan atau alat yang ada. Itu susahnya bukan main karena
dibutuhkan keberanian dan teknik yang tinggi dan keyakinan terhadap sebuah
perkiraan yang pasti. Karena jika perkiraan meleset atau ragu-ragu akibatnya
bisa fatal. Akibatnya akan terjatuh dengan luka serius dan mengalami patah
tulang.
Namun apa mau dikata jika inilah makanan jiwaku dan sebenarnya masih banyak
hobi-hobi lain yang bisa aku coba dan aku tekuni. Akan tetapi jiwa ini
menolaknya karena apa yang telah dirasakannya sudah cukup memberinya kepuasan
akan seleranya. Dan jika seumpama takdir berkata kepadaku “waktunya sudah
cukup, berhentilah!” maka aku siap untuk mendedikasikan sisa hidupku demi
kemajuan dunia skateboard di Tanah Air.
“Because life is too short to felt joy and happiness in this world”